Bisnis Pulsa

Wednesday, January 8, 2014

MULTIPLE INTELLIGENCES KECERDASAN MENURUT HOWARD GARDNER & IMPLEMENTASINYA (STRATEGI PENGAJARAN DIKELAS)

MULTIPLE INTELLIGENCES
KECERDASAN MENURUT HOWARD GARDNER &
IMPLEMENTASINYA (STRATEGI PENGAJARAN DIKELAS)
Oleh : Muhammad Alwi[1]

A.    Howard Gardner dan Multiple Intelligences?
Howard Gardner lahir 11 Juni 1943, ia masuk Harvard pada tahun 1961, dengan keinginan awal, masuk Jurusan Sejarah, tetapi di bawah pengaruh Erik Erikson, ia berubah mempelajari Hubungan-sosial (gabungan psikologi, sosiologi, dan antropologi), dengan kosentrasi di psikologi klinis. Lalu ia terpengaruh oleh psikolog Jerome Bruner dan  Jean Piaget.  Setelah Ph.D di Harvard pada tahun 1971 dengan disertasi masalah “Sensitivitas pada anak-anak”, Gardner terus bekerja di Harvard, di Proyek Zero. Didirikan pada tahun 1967, Proyek Zero dikhususkan kepada kajian sistematis pemikiran artistik dan kreativitas dalam seni, serta humanistik dan disiplin ilmu, baik di tingkat individu dan kelembagaan.  Kecerdasan kata Gardner, merupakan kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang. Kecerdasan bergantung pada konteks, tugas serta tuntutan yang diajukan oleh kehidupan kita, dan bukan tergantung pada nila IQ, gelar perguruan tinggi atau reputasi bergengsi.
Kita bisa mencontohkan apakah Einstein akan sukses seperti itu bila dia masuk di Jurusan Biologi atau belajar main bola dan Musik…jelas masalah fisika-teoritis Einstein, Max Planc, Stephen Howking, Newton adalah jenius-jenius, tetapi bab olah-raga maka Zidane, Jordane, Maradona adalah jenius-jenius dilapangan, juga Mozart, Bach adalah jenius-jenius dimusik. Dst..dst…juga Thoman A. Edison adalah jenius lain, demikian juga dengan para sutradara film, bagaimana mereka mampu membayangkan harus disyuting bagian ini, kemudian setelah itu, adegan ini, ini yang mesti keluar dengan pakaian jenis ini, latar suara ini, dan bahkan dialog seperti itu, ini adalah jenius-jenius bentuk lain. Disinilah Howard Gardner mengeluarkan teori baru dalam buku Frame of Mind, tentang Multiple Intelligences (Kecerdasan Majemuk), dimana dia mengatakan bahwa era baru sudah merubah dari Test IQ yang melulu hanya test tulis (dimana didominasi oleh kemampuan Matematika dan Bahasa), menjadi Multiple Intelligences.
Intellegence (Kecerdasan) katanya adalah kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dan dalam situasi nyata (Gardner; 1983;1993).
Multiple intelegencies = Kecerdasan Ganda meliputi;
  1. Intelegensi Linguistik
  2. Intelegensi matematis-Logis
  3. Intelegensi Ruang-Spasial
  4. Intelegensi Kinestetik-badani
  5. Intelegensi Musik
  6. Intelegensi Interpersonal
  7. Intelegensi Intrapersonal
  8. Intelegensi lingkungan/Naturalis (Perkembangan selanjutnya dari 7)
  9. Intelegensi eksistensial (Perkembangan lebih lanjut dari 8)

Awal dalam bukunya, hanya 7 kecerdasan, tetapi dikemudian hari dan sampai sekarang berkembang menjadi 8, 9 bahkan terakhir katanya 10 kecerdasan. Kekurangan atau problem, tapi juga mungkin kelebihan, dari teori kecerdasan ganda adalah, kecerdasan ini bisa berkembang terus, sebab tergantung syarat yang bisa dipenuhinya. Gardner (dalam Frame of Mind: The Theory of multiple Intelligences; 1985) menyatakan; “kecerdasan kandidat” dalam modelnya “lebih menyerupai pertimbangan artistic ketimbang penaksiran ilmiah” (hal 63). Dengan demikian, kecerdasan tambahan sebanyak apapun bisa dimasukkan kedalam model Gardner, karena menurutnya: “Tidak ada, dan tidak akan pernah ada, daftar kecerdasan manusia yang tidak terbantahkan dan diterima secara universal….kita bisa lebih mendekati tujuan itu jika kita berpegang hanya pada satu tingkat analisis (misalnya neurofisiologis)….” (hal 60). (Barbara K. Given, “Brain-Based Teaching”, hal 75).
Gardner menetapkan syarat khusus yang harus dipenuhi oleh setiap kecerdasan agar dapat dimasukkan dalam teorinya; Empat diantaranya adalah;
1.      Setiap kecerdasan dapat dilambangkan à misal matematika jelas ada lambang, Musik ada lambing (not dll), kinestetik ada lambing atau irama gerak dst, lambaian tangan, untuk selamat tinggal atau mau tidur dll.
2.      Setiap Kecerdasan mempunyai riwayat perkembangan à artinya tidak seperti IQ yang meyakini bahwa kecerdasan itu mutlak tetap dan sudah ditetapkan saat kelahiran atau tidak berubah, MI (Multiple Intelligences) percaya bahwa kecerdasan itu muncul pada titik tertentu dimasa kanak-kanan, mempunyai periode yang berpotensi untuk berkembang selama rentang hidup, dan berisikan pola unik yang secara berlahan atau cepat semakin merosot seiring dengan menuanya seseorang. Kecerdasan paling awal muncul adalah Musik lalu Logis-Matematis.
3.      Setiap Kecerdasan rawan terhadap cacat akibat
kerusakan atau cedera pada wilayah otak
tertentu. Misal orang dengan kerusakan
pada Lobus Frontal pada belahan otak kiri, tidak
mampu berbicara atau menulis dengan mudah,
namun tanpa kesulitan dapat menyanyi,
melukis dan menari. Orang yang lobus Temporalnya kanan yang rusak, mungkin mengalami kesulitan dibidang music tetapi dengan mudah mampu bicara, membaca dan menulis. Pasien dengan kerusakan pada Lobus oksipital belahan otak kanan mengkin mengalami kesulitan dalam mengenali wajah, membayangkan atau mengamati detail visual. (Thomas Amstrong, 1999, hal 8).
Kecerdasan linguistic ada pada belahan otak kiri, sementara music, spatial dan antarpribadi cenderung di belahan otak kanan. Kinestetik-jasmani menyangkut kortek motor, ganglia basal, dan serebellum (otak kecil). Lobus frontal mengambil peran penting pada kecerdasan intrapribadi (intrapersonal).
4.      Setiap kecerdasan mempunyai keadaan akhir berdasar nilai budaya. à Artinya tidak harus matematis-logis yang penting atau Spatial atau Musik atau…atau tergantung budaya masing-masing missal ada kemampun naik kuda, melacak jejak dll dalam budaya tertentu itu sangat-sangat penting dst.

Inilah empat syarat yang diberikan oleh Howard Gardner, makanya teorinya berkembang dari 7 Kecerdasan (Linguistik, Logis-Matematis, Musik, Spatial-Visual, Kenestetik, Intrerpersonal dan intrapersonal) Menjadi 9 (tambahan 2 yaitu; Naturalis dan terbaru Eksistensialis).
Adalah menarik sebagai contoh; bagaimana anda menghafal nomor telpon? Apakah anda mengulang-ngulang nomor tadi sebelum menelpon (ini berarti anda menggunakan teknik Liguistik) atau anda menbayangkan pola tombol yang harus anda tekan dalam pola peletakan tombol angka-angka (menggunakan metode Spatial-Visual) atau malah anda mengingat-ingat nada khas tiap-tiap angka (strategi Musikal).

B.    Perincian Kecerdasan Majemuk
Sembilan Jenis Kecerdasan
Jenis kecerdasan pertama, kecerdasan linguistik, adalah kecerdasan dalam mengolah kata. Ini merupakan kecerdasan para jurnalis, juru cerita, penyair, dan pengacara. Jenis pemikiran inilah yang menghasilkan King Lear karya Shakespeare, Odyssey karya Homerus, dan Kisah Seribu Satu Malam dari Arab. Orang yang cerdas dalam bidang ini dapat berargu-mentasi, meyakinkan orang, menghibur, atau mengajar dengan efektif lewat kata-kata yang diucapkannya. Mereka senang bermain-main de­ngan bunyi bahasa melalui teka-teki kata, permainan kata (pun), dan tongue twister. Kadang-kadang mereka pun mahir dalam hal-hal kecil, sebab mereka mampu mengingat berbagai fakta. Bisa jadi mereka adalah ahli sastra. Mereka gemar sekali membaca, dapat menulis dengan jelas, dan dapat mengartikan bahasa tulisan secara luas.
Jenis kecerdasan kedua, Logis-matematis, adalah kecerdasan dalam hal angka dan hgika. Ini merupakan kecerdasan para ilmuwan, akuntan, dan pemrogram komputer. Newton menggunakan kecerdasan ini ketika ia menemukan kalkulus. Demikian pula dengan Einstein ketika ia menyu-sun teori relativitasnya. Ciri-ciri orang yang cerdas secara logis-mate-matis mencakup kemampuan dalam penalaran, mengurutkan, berpikir dalam pola sebab-akibat, menciptakan hipotesis, mencari keteraturan konseptual atau pola numerik, dan pandangan hidupnya umumnya bersifat rasional.
Kecerdasan Spasial adalah jenis kecerdasan yang ketiga, mencakup bapikir dalam gambar, serta kemampuan untuk mencerap, mengubah, dan menciptakan kembali berbagai macam aspek dunia visual-spasial. Kecerdasan ini merupakan kecerdasan para arsitek, fotografer, artis, pilot, dan insinyur mesin. Siapa pun yang merancang piramida di Mesir, pasti mempunyai kecerdasan ini. Demikian pula dengan tokoh-tokoh seperti Thomas Edison, Pablo Picasso, dan Ansel Adams. Orang dengan tingkat kecerdasan spasial yang tinggi hampir selalu mempunyai kepekaan yang tajam terhadap detail visual dan dapat menggambarkan sesuatu dengan begitu hidup, melukis atau membuat sketsa ide secara jelas, serta dengan mudah menyesuaikan orientasi dalam ruang tiga dimensi.
Kecerdasan musikal adalah jenis kecerdasan keempat. Ciri utama kecerdasan ini adalah kemampuan untuk mencerap, menghargai, dan menciptakan irama dan melodi. Bach, Beethoven, atau Brahms, dan juga pemain gamelan Bali atau penyanyi cerita epik Yugoslavia, se-muanya mempunyai kecerdasan ini. Kecerdasan musikal juga dimiliki orang yang peka nada, dapat menyanyikan lagu dengan tepat, dapat mengikuti irama musik, dan yang mendengarkan berbagai karya musik dengan tingkat ketajaman tertentu.
Kecerdasan kelima, kinestetik-jasmani, adalah kecerdasan fisik. Kecer­dasan ini mencakup bakat dalam mengendalikan gerak tubuh dan kete-rampilan dalam menangani benda. Atlet, pengrajin, montir, dan ahli bedah mempunyai kecerdasan kinestetik-jasmani tingkat tinggi. De­mikian pula Charlie Chaplin, yang memanfaatkan kecerdasan ini untuk melakukan gerakan tap dance sebagai "Little Tramp". Orang dengan ke­cerdasan fisik memiliki keterampilan dalam menjahit, bertukang, atau merakit model. Mereka juga menikmati kegiatan fisik, seperti berjalan kaki, menari, berlari, berkemah, berenang, atau berperahu. Mereka adalah orang-orang yang cekatan, indra perabanya sangat peka, tidak bisa tinggal diam, dan berminat atas segala sesuatu.
Kecerdasan keenam adalah kecerdasan Antarpribadi. Ini adalah ke­mampuan untuk memahami dan bekerja sama dengan orang lain. Ke­cerdasan ini terutama menuntut kemampuan untuk mencerap dan tang-gap terhadap suasana hati, perangai, niat, dan hasrat orang lain. Direk-tur sosial sebuah kapal pesiar harus mempunyai kecerdasan ini, sama halnya dengan pemimpin perusahaan besar. Seseorang yang mempunyai kecerdasan antarpribadi bisa mempunyai rasa belas kasihan dan tanggung jawab sosial yang besar seperti Mahatma Gandhi, atau bisa juga suka memanipulasi dan licik seperti Machiavelli. Namun, mereka semua mempunyai kemampuan untuk memahami orang lain dan melihat dunia dari sudut pandang orang yang bersangkutan. Oleh karena itu, mereka dapat menjadi networker, perunding, dan guru yang ulung.
Kecerdasan Ketujuh adalah kecerdasan Intrapribadi atau kecer­dasan dalam diri sendiri. Orang yang kecerdasan intrapribadinya sangat baik dapat dengan mudah mengakses perasaannya sendiri, membedakan berbagai macam keadaan emosi, dan menggunakan pemahamannya sendiri untuk memperkaya dan membimbing hidupnya. Contoh orang yang mempunyai kecerdasan ini, yaitu konselor, ahli teologi, dan wirau-sahawan. Mereka sangat mawas diri dan suka bermeditasi, berkontemplasi, atau bentuk lain penelusuran jiwa yang mendalam. Sebaliknya, mereka juga sangat mandiri, sangat terfokus pada tujuan, dan sangat disiplin. Secara garis besar, mereka merupakan orang yang gemar bela-jar sendiri dan lebih suka bekerja sendiri daripada bekerja dengan orang lain. (Armstrong: 1999: 3-6)
Kecerdasan kedelapan, Kecerdasan Naturalis (Lingkungan). Gardner menjelaskan inteligensi lingkungan sebagai kemampuan seseorang untuk dapat mengerti flora dan fauna dengan baik, dapat membuat distingsi konsekuensial lain dalam alam natural; kemampuan untuk memahami dan menikmati alam; dan menggunakan kemampuan itu secara produktif dalam berburu, bertani, dan mengembangkan pengetahuan akan alam.
Orang yang punya inteligensi lingkungan tinggi biasanya mampu hidup di luar rumah, dapat berkawan dan berhubungan baik dengan alam, mudah membuat identifikasi dan kla-sifikasi tanaman dan binatang. Orang ini mempunyai kemam­puan mengenal sifat dan tingkah laku binatang, biasanya mencintai lingkungan, dan tidak suka merusak lingkungan hidup. Salah satu contoh orang yang mungkin punya inteligensi lingkungan tinggi adalah Charles Darwin. Kemampuan Dar­win untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasi serangga, burung, ikan, mamalia, membantunya mengembangkan teori evolusi.
Inteligensi lingkungan masih dalam penelitian lebih lanjut karena masih ada yang merasa bahwa inteligensi ini sudah termasuk dalam inteligensi matematis-logis. Namun, Gardner berpendapat bahwa inteligensi ini memang berbeda dengan inteligensi matematis-logis.
Kecerdasan kesembilan, Kecerdasan Eksistensial, intelegensi ini menyangkut kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan-persoalan terdalam eksistensi atau keberadaan manusia. Orang tidak puas hanya menerima keadaannya, keberadaannya secara otomatis, tetapi mencoba menyadarinya dan mencari jawaban yang ter­dalam. Pertanyaan itu antara lain: mengapa aku ada, mengapa aku mati, apa makna dari hidup ini, bagaimana kita sampai ke tujuan hidup. Inteligensi ini tampaknya sangat berkembang pada banyak filsuf, terlebih filsuf eksistensialis yang selalu mempertanyakan dan mencoba menjawab persoalan eksistensi hidup manusia. Filsuf-filsuf seperti Sokrates, Plato, Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Kindi, Ibn Rusyd, Thomas Aquinas, Descartes, Kant, Sartre, Nietzsche termasuk mempunyai inteligensi eksistensial tinggi.
Anak yang menonjol dengan inteligensi eksistensial akan mempersoalkan keberadaannya di tengah alam raya yang besar ini. Mengapa kita ada di sini? Apa peran kita dalam dunia yang besar ini? Mengapa aku ada di sekolah, di tengah teman-teman, untuk apa ini semua? Anak yang menonjol di sini sering kali mengajukan pertanyaan yang jarang dipikirkan orang, termasuk gurunya sendiri. Misalnya, tiba-tiba ia bertanya, "Apa manusia semua akan mati? Kalau semua akan mati, untuk apa aku hidup?"
Ingatlah bahwa meskipun Anda merasa sangat cocok dengan salah satu atau dua definisi di atas, sebenarnya Anda mempunyai semua ke­cerdasan itu. Tambahan lagi, setiap manusia normal dapat mengem-bangkan ketujuh jenis kemampuan itu sampai ke tingkat penguasaan tertentu. Setiap pribadi adalah unik, sebagaimana ketujuh/Delapan/Sembilan kecerdasan itu memperlihatkan bentuknya dalam kehidupan kita. Jarang sekali ada orang yang dapat mencapai tingkat penguasaan yang tinggi dalam enam, tujuh atau delapan kecerdasan tersebut. Ibn Sina atau Al Kindi mungkin beberapa orang dengan kecerdasan yang sangat banyak. Ia Dokter ulung, filosof, ahli bahasa, Negarawan, penulis dll, Al Kindi juga Dokter, Pemusik handal (konon katanya ia menyembuhkan penyakit orang dengan music), Filosof, penulis, penerjemah dengan penguasaan berbagai bahasa, dan pemilik kebun-binatang yang cukup luas dan lengkap. Rudolf Steiner, pemikir Jerman awal abad ke-20 juga. Ia adalah filsuf, penulis, dan ilmuwan. Ia juga menciptakan sistem dansa, teori warna, dan sistem berkebun, sekaligus pematung, ahli teori sosial, dan arsitek.

C.     Survei Kecerdasan Majemuk

DAFTAR PERIKSA KECERDASAN GANDA
Tandailah pernyataan yang berlaku dalam setiap kategori kecerdasan:

Kecerdasan Linguistik
1.      Buku sangat penting bagi saya.
2.      Saya dapat mendengar kata-kata di kepala saya sebelum saya membaca, berbicara, atau menuliskannya.
3.      Saya mendapatkan lebih banyak hal dari mendengarkan radio atau kaset yang banyak berisi kata-kata daripada televisi atau film.
4.      Saya tidak mengalami kesulitan dalam permainan kata seperti Scrabble, Anagrams, atau Password.
5.      Saya senang menghibur diri sendiri atau orang lain dengan lelu-con, sajak lucu lucuan, atau permainan kata.
6.      Kadang-kadang orang lain terpaksa berhenti dan meminta saya untuk menjelaskan makna kata yang saya gunakan dalam tulisan atau pembicaraan saya.
7.      Ketika bersekolah, saya menganggap pelajaran bahasa, studi sosial, dan sejarah lebih mudah daripada matematika dan ilmu alam.
8.      Kalau saya berkendaraan di jalan bebas hambatan, saya lebih itikan kata-kata yang tertulis di papan reklame daripada memperhatikan pemandangan.
9.      percakapan, saya sering mengungkapkan segala sesuatu pemah saya baca atau dengar.
10.  Akhir-akhir ini saya menulis sesuatu yang amat saya banggakan atau yang membuat saya mendapat pengakuan dari orang lain.
11.  Kekuatan Linguistik yang lain?................Coba anda telusuri sendiri.
Kecerdasan Logis-Matematis
1.      Dengan mudah saya dapat menghitung angka-angka dalam benak saya.
2.      Matematika dan/atau sains merupakan mata pelajaran favorit saya di sekolah.
3.      Saya suka melakukan permainan atau memecahkan soal yang menuntut pemikiran logis.
4.      Saya suka mengadakan percobaan kecil "Bagaimana seandainya" (misalnya, "Bagaimana seandainya saya melipatduakan jumlah air yang saya tuangkan ke rumpun mawar di halaman rumah setiap minggunya?").
5.      Saya selalu mencari pola keteraturan, atau urutan logis dari segala sesuatu.
6.      Saya menaruh minat pada perkembangan baru dalam sains.
7.      Saya berpendapat bahwa hampir segala sesuatu mempunyai penjelasan yang masuk akal.
8.      Kadang-kadang saya berpikir dalam konsep yang jelas, abstrak, tanpa kata, tanpa gambar.
9.      Saya sering menemukan salah penalaran dalam segala sesuatu yang dikatakan dan dilakukan orang di rumah maupun di tempat kerja.
10.  Saya merasa lebih nyaman bila segala sesuatu sudah diukur, dikelompokkan, dianalisis, atau dikuantifikasikan dengan cara tertentu.
11.  Kekuatan Logis-Matematis lainnya? ……..Coba anda telusuri sendiri.

Kecerdasan Spatial
1.      Saya sering melihat gambaran visual yang jelas ketika menutup kedua mata.
2.       Saya peka terhadap warna
3.      Saya sering menggunakan kamera atau camcorder untuk merekam apa yang saya lihat di sekitar saya.
4.       Saya gemar mengerjakan puzzle, maze, dan teka-teki visual lainnya.
5.       Saya mengalami mimpi yang begitu nyata di malam hari.
6.       Biasanya saya dapat mengenali jalan bahkan di wilayah yang tidak saya kenal.
7.       Saya suka menggambar atau mencoret-coret.
8.       Bagi saya, ilmu ukur lebih mudah daripada aljabar.
9.      Saya dapat dengan mudah membayangkan bagaimana sesuatu akan terlihat jika dilihat langsung dari atas dengan pandangan mata seekor burung.
10.  Saya lebih suka melihat bahan bacaan yang banyak gambarnya.
11.  Kekuatan Spasial lainnya?………………Coba anda telusuri sendiri.
Kecerdasan Kinestetik-Jasmani
1.      Sekurang-kurangnya saya melakukan salah satu jenis olahraga atau kegiatan jasmani lain secara teratur
2.       Saya tidak betah duduk diam berlama-lama.
3.      Saya suka bekerja dengan kedua tangan saya dalam kegiatan konkret seperti menjahit, menenun, mengukir, bertukang, atau mera-kit model.
4.       Seringkali ide terbaik saya muncul ketika saya berada di luar rumah untuk berjalan-jalan, joging, atau ketika saya sedang melakukan kegiatan jasmani lain.
5.      Seringkali saya menghabiskan waktu luang di luar rumah.
6.      Seringkali saya menggunakan gerak-gerik tangan atau bentuk bahasa tubuh lain ketika bercakap-cakap dengan seseorang.
7.      Saya harus menyentuh bermacam-macam benda supaya lebih banyak mengetahui tentang benda tersebut.
8.       Saya senang naik permainan yang mendebarkan atau ikut dalam petualangan jasmani yang menegangkan.
9.       Saya suka menggambarkan diri saya sendiri sebagai orang yang mempunyai koordinasi tubuh yang baik.
10.  Saya harus mempraktekkan sebuah keterampilan baru bukan sekadar membaca atau menonton video tentang keterampilan itu.
11.  Kekuatan Kinestetik-Jasmani lainny? …………Coba anda telusuri sendiri.
Kecerdasan Musikal
1.       Jika bernyanyi, suara saya terbilang merdu.
2.       Saya dapat membedakan nada musik yang fals.
3.       Saya sering mendengarkan musik di radio, piringan hitam, kaset, atau CD.
4.       Saya dapat memainkan alat musik.
5.       Hidup saya akan lebih sengsara jika tidak ada musik.
6.       Kadang-kadang tanpa sadar saya melantunkan lagu iklan televise atau lagu lain sewaktu saya berjalan kaki.
7.      Dengan mudah saya mengikuti irama musik dengan alat perkusi sederhana.
8.       Saya mengenal banyak melodi dari berbagai lagu dan karya musik.
9.       Kalau saya mendengar karya musik sebanyak satu/dua kali, biasanya saya dapat menyanyikannya kembali dengan cukup tepat.
10.   Saya sering mengetuk-ngetuk atau melantunkan melodi secara sepotong-sepotong sambil bekerja, belajar, atau mempelajari sesuatu yang baru.
11.  Kekuatan Musikal lainny? …………Coba anda telusuri sendiri.

Kecerdasan Antarpribadi
1.      Saya adalah jenis orang yang didatangi orang lain untuk dimintai nasihat dan bimbingan di tempat kerja atau di tempat tinggal.
2.       Saya lebih menyukai olahraga berkelompok seperti bulutangkis, bola voli, atau sofbol daripada olahraga tunggal, seperti berenang dan joging.
3.      Kalau saya menghadapi masalah, saya cenderung mencari orang lain untuk dimintai pertolongan daripada berusaha untuk meme-cahkannya sendiri.
4.       Saya mempunyai sekurang-kurangnya tiga orang sahabat dekat.
5.       Saya lebih menyukai permainan bersama untuk mengisi waktu, seperti monopoli atau bridge daripada hiburan yang dilakukan sen­diri, seperti bermain video game dan kartu solitaire.
6.       Saya tertantang untuk mengajari orang lain, atau kelompok orang, tentang apa yang dapat saya kerjakan.
7.      Saya menganggap diri saya sebagai pemimpin (atau orang lain menyebut saya begitu).
8.       Saya senang berada di tengah kerumuman orang.
9.      Saya suka terlibat dalam kegiatan sosial yang berhubungan dengan pekerjaan, tempat ibadah, atau komunitas tempat tinggal saya.
10.  Saya lebih suka menghabiskan petang hari di sebuah pertemuan yang meriah daripada tinggal sendirian di rumah.
11.  Kekuatan Antarpribadi lainny? …………Coba anda telusuri sendiri.

Kecerdasan Intrapribadi
1.      Secara berkala saya meluangkan waktu sendirian untuk bermedi-tasi, merenung, atau memikirkan masalah kehidupan yang penting.
2.      Saya telah mengikuti sesi bimbingan atau seminar pengembangan pribadi untuk lebih mengenal diri saya sendiri.
3.      Saya punya pendapat yang membuat saya berbeda dengan orang
4.      biasa.
5.      Saya mempunyai hobi atau minat khusus yang saya simpan rapat-rapat untuk diri saya sendiri.
6.      Saya mempunyai sasaran penting dalam hidup saya yang saya renungkan secara berkala.
7.      Saya mempunyai pandangan yang realistis tentang kelemahan dan kekuatan saya (yang saya dapatkan dari umpanbalik orang lain). Saya lebih suka menghabiskan akhir pekan sendirian di sebuah pondok di hutan daripada di sebuah tempat peristirahatan mewah dengan banyak orang di sekitarnya.
8.      Saya menganggap diri saya berkemauan keras dan berpikiran mandiri.
9.      Saya mempunyai buku harian atau jurnal untuk merekam peristiwa kehidupan batin saya.
10.  Saya berwiraswasta atau setidak-tidaknya amat ingin memulai usaha sendiri.
11.  Kekuatan Intrapribadi lainnya?.........Coba anda telusuri sendiri

Kecerdasan Naturalis (lingkungan)

1.       Kalau saya punya waktu luang saya suka membeli tanaman, atau hewan, menyiram tanaman atau member makan burung, kucing atau semacamnya.
2.       Saya senang dengan binatang/tanaman peliharaan saya.
3.       Saya suka belajar tentang alam, hewan, tumbuhan atau lainnya.
4.       Saya berharap mengunjungi kebun binatang, bila punya waktu.
5.       Saya menikmati berburu atau memancing atau semacamnya.
6.       Saya Pingin atau suka kegunung, mendaki, camping atau rekreasi ke-alam seperti itu.
7.       Tanaman atau hewan penting bagi saya.
8.       Bila saya melihat acara televise, saya menyukai acara flaura dan fauna.
9.       Saya senang waktu liburan untuk kealam luas, daripada sekadar berenang, atauke mall.
10.   Alam dan sekitarnya adalah sesuatu yang sangat mengasyikkan.
11.  Kekuatan Naturalis (Lingkungan) lainnya?.........Coba anda telusuri sendiri.

Praktek Multiple di SMP/SMA YAPI (Pengantar-Implementasi di Sekolah)

Pada awalnya, banyak rekan guru yang pesimis kemungkinan kemampuan untuk melaksanakan Multiple intelligences (MI). Karena ada 8/9 atau 10 kecerdasan yang mesti diajarkan dikelas. Tetapi sebenarnya tidak mesti seperti itu untuk “optimalisasi dengan batasan” bahasa saya. Sebab kita tahu, realitasnya teori itu ideal, sementara sekolah, kelas, murid, guru punya banyak batasan. Misalnya yang klasik adalah alatnya kurang, waktu tidak ada, adanya ulangan-bersama, adanya UAN dll, serta yang terpenting gaji guru yang “pas-pas”an, dengan beban “selalu” ditambah. Tetapi kami yakin dan mengatakan, kita perlu berupaya untuk melakukan semaksimal yang kita mampu (optimalisasi dengan batasan). Uji coba yang kami upayakan yaitu;
Pada awal tahun, anak-anak dilakukan test multiple intelligences (MI), dengan cara survey (ditanya dengan soal-soal test, menggunakan kuesioner dari Terry Amstrong diperbaiki sendiri oleh team), lalu di-smoothkan (diperhalus) dengan pengamatan-pengamatan keseharian dilingkungannya (kelas, asrama, dst). Setelah mendapatkan hasil, maka hasil itu ditabulasi dan diberikan keseluruhan kepada dewan guru. Contoh Hasil tahulasi itu sebagai berikut;






Hasil Tabulasi Kecerdasan per-Anak
No
Nama
Tempat/Tgl/lahir
Kelas
Kecerdasan
Lingitk
Matematis
Musik
Visual
Kinestetik
Inte
personal
Intra
personal
Naturalis
1
Si-A

SMP VIIA
24
17
16
15
26
21
17
26
2
Si-B

SMP VIIA
22
18
20
19
18
30
3
29
3
Si-C

SMP VIIA
22
30
23
22
28
32
18
23
4
SI-D

SMP VIIA
13
19
26
18
30
27
8
18
dst
SI-F

SMP VIIA
20
31
34
25
30
27
18
22

Hasil Tabulasi Kecerdasan Dominannya Kelas
No
Nama
Tempat/Tgl/lahir
Kelas
Kecerdasan
Lingitk
Matematis
Musik
Visual
Kinestetik
Inte
personal
Intra
personal
Naturalis
1
Si-A

SMP VIIA
24(3)
17 (4)
16
15
26 (2)
21
17 (5)
26 (1)
2
Si-B

SMP VIIA
22 (3)
18
20 (4)
19
18
30
(1)
3
29 (2)
3
Si-C

SMP VIIA
22
30 (2)
23 (4)
22
28 (3)
32 (1)
18
23 (5)
4
SI-D

SMP VIIA
13
19 (4)
26 (3)
18
30 (1)
27 (2)
8
18
dst
SI-F

SMP VIIA
20
31 (2)
34 (1)
25
30 (3)
27 (4)
18
22




2
4
4
0
4
4
1
3

Kita tahu, Si A urutan kecerdasannya adalah; 26 (N), 26 (K), 24 (L), 21 (I), 17 (Ir), 17(M), 16 (M), 15 (V).  maka kita bisa ambil 2,3 maksimal 4 kecerdasan tertingginya yaitu (N, K, L, I). itulah kecerdasan optimum secara “umum”, yang dimiliki oleh Si-A.  Sehingga pendekatan pengajaran kepada Si-A mestinya menggunakan kecerdasan optimumnya yaitu (Naturalis, Kinestetik, Linguistik dan Interpersona), tanpa mengabaikan yang lain kemudiannya. Tetapi kita mesti ingat kita mengajar bukan pada satu anak, walaupun kita juga harus tahu bahwa pada dasarnya anak itu “unik”. Maka strateginya adalah strategi pengajaran umum dan khusus sekaligus. Artinya kita melihat kecerdasan umum dikelas, dan kecerdasan khusus per-anak. Bagaimana itu dilaksanakan?
Pertama; Kita mesti melihat tabulasi kecerdasan Dominan Kelas (contoh diatas murid 5 orang). Disini kita ambil (4 kecerdasan tertinggi, mengapa harus 4, tidak 2, 3 atau 5 dan 6? Ini hanya arbiter, untuk memudahkan pengajaran. Bila 4 dirasa sulit bisa 3).  Hasil tabulasi itu adalah; Yang suka matematis (4 anak), Musik (4 anak), Kinestetik (4 anak), Interpersonal (4 anak), Naturalis (3 anak), Linguistik (2 anak), Interapersonal (1 anak), Visual (0 anak). Maka untuk strategi mengajar dengan “maksimalisasi dengan batasan” adalah; kita harus mengambil 3 atau 4 kecerdasan dominan kelas yaitu Matematis, Musik, Kinestetik dan Interpersonal. Kita mengajar dengan kecerdasan itu karena kecerdasan itu disukai oleh 4 anak dari 5 total jumlah murid kelas.
Persipan mengajar guru, disain, metode mengajarnya harus disesuaikan dengan pendekatan 4 kecerdasan itu, sehingga cara kita mengajar itu diminati oleh mayoritas anak-anak dikelas. Bila selanjutnya dalam proses pembelajaran ada anak-anak tertentu yang mengalami kesulitan untuk pembelajaran tertentu? Misalnya setelah remidi 2 kali, kok ternyata nilainya tidak beranjak baik? Maka kita lihat data yang kita miliki….misal yang jelek adalah anak dengan nama SI-C. Maka dari data yang kita miliki, kecerdasan tertinggi dia adalah interpersonal (maka untuk anak ini, kita dekati dengan pendekatan khusus Interpersonal untuk tugas-tugas tambahannya atau pengulangan materinya dst).
Intinya adalah kita mengajar dengan pendekatan dominan kelas, sehingga pendekatan kita itu adalah pendekatan rata-rata terbaik kelas yang kita ajarkan. Dengan pendekatan itu, mestinya (secara teori) akan mampu diserap oleh anak-anak kelas (karena itu kesukaan mereka). Bila ada 1, 2 dan 3 anak yang tidak mampu memahaminya, maka pendekatan khusus kecerdasan anak itu (unik per-anak) yang kita coba gunakan. Baik sebagai tambahan tugan, lest materi remidi atau pier-teaching atau lainnya. 
Inilah yang menurut kami, upaya penerapan Pembelajaran Multiple-Intelligences dengan “Strategi Optimalisasi dengan Batasan”.

D.   Hubungan Multiple Intelligences dengan Sekolah-Kurikulum-Pelajaran dan Program Ekstrakulikuler.
Kemamampuan Terkait dan Bidang Studi di Sekolah serta Arah-Bimbingan Karier (Pekerjaan) SD/SMP/SMA
Intelegensi
Kemampuan menonjol
Terkait
Menonjol pada fungsi
Contoh
Mata
Pelajaran
Program
Tambahan
Kegiatan Ekstrakulikuler
Linquistik Verbal







Mengerti  urutan dan arti kata-kata
Menjelaskan, mengajar, bercerita, berdebat
Humor
Mengingat dan menghafal
Analisis linguistic
Menulis dan berbicara
Main drama, berpuisi, berpidato
Mahir dalam perbendaharaan kata
Dramawan, editor, pengarang, jurnalis,
sastrawan, orator,
ahli sastra, novelis


W.S. Rendra,
Sukarno,
Martin Luther,
Zoetmoelder,
Motinggo Busye,
Pramudya,
Gunawan
Mohamad, John Paul  II
Bahasa, IPS, sejarah, agama, budipekerti, pancasila
Keterampilan bicara, menulis, komu-nikasi, drama
Majalah dinding, majalah sekolah, kelompok bahasa, regu debat, kelompok drama, kelompok pidato
Matematis-logis




Logika
Reasoning, pola sebab-akibat
Klasifikasi dan kategorisasi
Abstraksi, simbolisasi
Pemikiran induktif dan deduktif
Menghitung dan bermain angka, Pemikiran ilmiah Problem solving, Silogisme
Logikus,
matematikus,
saintis, programer,
negosiator

Einstein,
Stephen Hawking,
John Dewey,
Russell,
Andi Hakim Nasution
Matematika, IPA, Ekonomi
Keterampilan berpikir, logika, komputer
Sains klub, lomba sains
Ruang-visual


Mengenal relasi benda-benda dalam
ruang dengan tepat
Punya persepsi yang tepat dari berbagai sudut
Representasi grafik
Manipulasi gambar, menggambar
Mudah menemukan jalan dalam ruang Imajinasinya aktif
Peka terhadap warna, garis, bentuk
Pemburu, arsitek,
dekorator,
navigator, ahli peta, pelukis, pemahat, penggambar, pemain catur
Pablo Picasso,
Affandi,
Sidharta, Gary Kasparov, Michaelangelo
Menggambar
Keterampilan melukis, menggambar, memahat, membaca peta
Klub melukis, klub bangunan, klub catur, klub pencari jejak
Kinestetik-badani
Mudah berekspresi dengan tubuh Mengkaitkan pikiran dan tubuh Kemampuan main mimik Main drama, main peran Aktif bergerak, olahraga, menah Koodinasi dan fleksibilitas tubuh tinggi
Aktor, atletik, penari, pemahat, ahli bedah, olahragawan,
Mohamad Ali, Sidharta,
Rudi Hartono, Agassi, Charlie Chaplin, Kristi Yamaguchi, Dustin Hoffman
Olahraga
Latihan tari, latihan macam-macam olahraga
Tim olahraga, grup drama, grup tari
Musikal
Kepekaan terhadap suara dan musik,
Tahu struktur musik dengan baik,
Mudah menangkap musik
Mencipta melodi , Peka dengan intonasi, ritmik
Menyanyi, pentas music, Mencipta musik
Pemain alat music
Musikus, penyanyi, pemain opera, komponis, dirigen, pemain musik
Mozart, Bach, Beethoven
Musik
Latihan alat musik, sejarah musik
Grup band, musik, koor, karawitan, kolintang
Interpersonal
Mudah kerja sama dengan teman
Mudah mengenal dan membedakan perasaan dan pribadi teman, Komunikasi verbal dan nonverbal,
Peka terhadap teman, empati,
 Suka memberikan feedback
Komunikator, fasilitator, penggerak massa,
pemersatu
Ibu Theresa, Mahatma Gadhi, Reagan
 Wiraswasta, berdagang
Program kepekaan masyarakat, studi grup, proyek bersama, mema-hami orang lain
Dewan siswa, kegiatan siswa bersama, klub rumah sakit
Intrapersonal
Dapat berkonsentrasi dengan baik Kesadaran dan ekspresi perasaan-perasaan yang berbeda Pengenalan diri yang dalam Keseimbangan diri Kesadaran akan realitas spiritual Reflektif, suka kerja sendiri
Pendoa batin, spiritual yang mendalam, pendamai
Freud, Thomas Merton, Harry Truman
 Psikolog
Refleksi, retret, kesadaran diri
Tugas renungan di rumah
Lingkungan/Naturalis
Mengenal flora dan fauna, Mengklasifikasi dan identifikasi tumbuh-tumbuhan dan binatang, suka pada alam, hidup di luar rumah
Botanis, anatomis
Darwin,
Biologi
Zoolog, Peneliti Biologi, flara-fauna
Kamping, Pecinta Alam, Cinta Lingkungan, Gerakan Penghijauan, Pencegahan Global warming dll
Eksistensial
Kepekaan dan kemampuan untuk men-jawab persoalan eksistensi manusia; apa makna hidup ini; mengapa kita lahir dan mati
Filsuf, berefleksi tentang keberadaan
Plato, Socrates, Ibn Sina, al-Kindi, Kant, Nietzche
Filosof, Ulama/Pastur
Dibiasakan bertanya apa tujuan hidupku, latihan kritis
Penelitian : Tujuan Hidup Orang


E.     Dampak Kecerdasan Ganda terhadap Guru dan Strategi mengajar di kelas:
1.      Guru perlu mengerti intelligentsia siswa-siswanya (makanya guru perlu mampu melakukan MIS, Multiple Intelligences Survei).
2.      Guru perlu mengembangkan model mengajar dengan berbagai kecerdasan, bukan hanya kecerdasan yang menonjol pada dirinya. à ini yang agak bermasalah, sebab perlu sedikit usaha guru untuk mampu belajar dengan keluar dari gaya belajarnya. Keuntungannya apabila guru mau melakukan itu adalah dua sisi, sisi pertama jelas pada para siswa, sisi kedua, guru itu sendiri mampu memantik kecerdasan dia lainnya, dan ini akan jadi pengalaman yang sangat menarik dan mengasyikan.
3.      Guru perlu mengajar dengan intelegensi siswa, bukan dengan intelegensinya yang berbeda dengan intelligensi siswa.
4.      Dalam mengevaluasi kemajuan siswa, guru perlu menggunakan berbagai model yang cocok dengan intelegensi ganda, bukan hanya dengan paper and test.
    

Strategi Mengajar di kelas dengan Multiple Intelligences
Armstrong memberikan beberapa strategi yang perlu diperhatikan dalam pengajaran dengan menggunakan teori intelligensi ganda. Secara umum strategi itu adalah sebagai berikut;
Intelligensi linguistik dapat dilakukan dengan memberi kesempatan kepada siswa untuk bercerita, menuliskan kembali yang dipelajari, dengan brainstorming, membuat jurnal tentang materi yang dipelajari, atau menerbitkan majalah dinding. Dengan kata lain, setelah mempelajari topik tertentu siswa perlu diberi kesempatan untuk mengungkapkan pemikirannya dengan menuliskan kembali lewat kata-kata mereka sendiri. Misalnya, bila topiknya gaya sentrifugal (Fisika). Setelah mempelajari gaya tersebut, siswa diberi kesempatan untuk menuliskan pengertian mereka tentang gaya tersebut secara bebas atau mengungkapkan gagasannya secara lisan di depan kelas. Bila topiknya masalah keadilan, siswa dapat diminta untuk menulis ketidakadilan yang mereka alami dalam masyarakat.
Inteligensi matematis-logis dapat diwujudkan dalam bentuk menghitung, membuat kategorisasi atau penggolongan, membuat pemikiran ilmiah dengan proses ilmiah, membuat analogi dan sebagainya. Misalnya, dalam mempelajari berbagai zat, siswa dapat diminta untuk mengelompokkan macam-macamI benda ke dalam suatu klasifikasi yang bagi mereka lebih mudah       dimengerti. Setelah mempelajari penurunan rumus secara            matematis, siswa diminta untuk mengaplikasikan rumus itu ke dalam pemecahan persoalan yang baru. Di sini perlu diperhatikan jalan pikiran dan logika siswa dalam memecahkan persoalan. Dalam topik keadilan, misalnya, siswa diajak untuk menghitung berapa persen penduduk Indonesia yang miskin, yang diperlakukan tidak adil, dan diminta membuat tabel       tentang data tersebut.
Inteligensi ruang-visual dapat diungkapkan dengan visualisasi materi, dengan membuat sketsa, gambar, simbol grafik, mengadakan tour keluar kelas, mengadakan eksperimen di laboratorium, dan sebagainya. Misalnya, bila topiknya keadilan, kepada siswa dapat ditunjukkan film tentang penderitaan masyarakat miskin yang mengalami ketidakadilan, atau diberi       tugas untuk melihat orang-orang miskin akibat ketidakadilan.
Inteligensi kinestetik-badani dapat diungkapkan dengan bentuk ekspresi gerak dan badan. Bentuk-bentuk seperti mendramatisir, membuat teater, membuat hands-on activities tentang materi yang dipelajari sangat membantu dalam mengungkap­kan inteligensi kinestetik-badani. Misalnya, dalam mempelajari tumbukan, siswa dapat di dalam atau di luar kelas mempraktek-kan hukum kekekalan tumbukan dengan posisi tubuh mereka pada waktu bertabrakan dengan teman lain. Dalam topik ke­adilan, siswa dapat mementaskan role play tentang ketidakadilan penguasa terhadap rakyat, atau membuat tarian yang menggambarkan penderitaan manusia karena ketidakadilan.
Inteligensi musikal dapat diungkapkan dengan memberikan kesempatan dan tugas kepada siswa untuk menyanyi, membuat lagu, atau mengungkapkan materi dalam bentuk suara. Guru sendiri dalam menyiapkan materi fisika, dengan topik hukum
Newton II, dapat merencanakan penjelasan rumus tersebut dengan suatu lagu yang akan membuat siswa mudah mema-hami dan lebih relaks. Bila topiknya keadilan, siswa diminta untuk menuliskan lagu yang mengungkapkan suasana ke­tidakadilan atau keadilan.
Inteligensi interpersonal dapat diekspresikan dalam bentuk kegiatan sharing, diskusi kelompok, ker ja sama membuat proyek atau praktikum bersama, permainan bersama maupun mem­buat simulasi bersama. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa setiap siswa dalam kelompok sungguh aktif bekerja sama, sehingga kerja sama tidak dikuasai oleh satu siswa dan yang lainnya pasif. Siswa yang tidak begitu lancar bekerja sama perlu dibantu untuk lebih berani.
Inteligensi intrapersonal dapat dikembangkan dengan mem­berikan waktu sendiri kepada siswa untuk refleksi dan berpikir sejenak. Beberapa soal yang diberikan perlu persoalan terbuka di mana siswa secara mandiri dapat mengungkapkan gagasannya. Guru sendiri perlu belajar untuk menyajikan materi de­ngan memasukkan perasaan, humor, dan juga keseriusannya. Dengan kata lain, sikap pribadi guru perlu juga ditunjukkan untuk membantu siswa yang intrapersonal. Pada akhir pelajar­an, baik bila siswa diminta untuk merefleksikan kegunaan pelajaran ini bagi hidup mereka.
Inteligensi lingkungan (Naturalis = Kecerdasan ke 8) dapat diungkapkan dengan mengajak siswa untuk melihat apakah topik yang dipelajari ada kaitannya dengan lingkungan hidup mereka, dengan alam tempat mereka hidup. Misalnya, dalam topik ketidakadilan, siswa dapat diajak dan melihat berbagai tanaman di hutan yang ditebang tanpa tanggung jawab sehingga mengakibatkan banjir, kekeringan, dan penderitaan orang banyak.
Inteligensi eksistensial (= kecerdasan ke 9) dapat diwujudkan dengan mengajak siswa mempertanyakan soal keberadaannya. Msalnya, dalam topik evolusi, mengajak siswa untuk mempersoalkan apakah kejadian manusia dan kita ini juga melalui evolusi tersebut? Dalam topik keadilan, siswa diajak untuk mempertanyakan apakah situasi ketidakadilan itu sesuai dengan hidup manusia dan membantu manusia sampai ke tujuannya.

Menentukan Evaluasi
Salah satu unsur yang sangat penting dalam proses pembelajar-an adalah evaluasi. Jelas evaluasi perlu disesuaikan dengan tujuan dan juga cara mengajar seorang guru. Bila dalam pembelajaran guru menggunakan inteligensi ganda, maka evaluasinya pun perlu disesuaikan dengan kemampuan inteligensi ganda. Evaluasi yang hanya mementingkan salah satu inteligensi, misalnya matematis-logis, kurang dapat mengukur seluruh kemampuan siswa.
Beberapa bentuk evaluasi berikut, yang ditekankan oleh Armstrong (1994), sangat sesuai untuk mengevaluasi siswa, senada dengan pendekatan inteligensi ganda, yaitu;
1.         Portofolio, yaitu laporan tugas-tugas siswa selama selur proses pembelajaran. Termasuk di dalamnya adalah lapo tertulis, hasil diskusi kelompok, hasil refleksi pribadi, tugas, gambar, laporan komputer, slide, atau video, bila pernah dibuat. Tugas-tugas informal yang pernah dikerjakan siswa, seperti catatan atau draf lagu, permainan, kerja kelompok kecil, perlu dikumpulkan pula.
2.      Penilaian selama proses belajar perlu dikumpulkan. Guru perlu selalu memantau dan memberikan penilaian singkat kepada setiap siswa selama proses belajar: selama diskusi, selama mereka bermain bersama sesuai materi, dan selama mereka aktif partisipasi dalam pembelajaran.
3.      Soal tertulis yang diberikan kepada siswa perlu juga dirumuskan sesuai dengan kesembilan inteligensi ganda tersebut. Maka, perlu ada persoalan logika, musikal, ruang, gerak,  refleksi pribadi, dan juga bahasa tertulis. Misalnya tes tentang hukum Newton II dapat berbentuk seperti berikut ini.
1)      Bagaimana rumusan hukum Newton II?
2)      Tuliskanlah dengan kata-katamu sendiri hukum Newton II dan jelaskan dengan suatu contoh!
3)      Bila ada sebuah kereta yang tadinya bergerak deng kecepatan 100 km/jam, lalu tiba-tiba diberi tambah gaya yang jauh lebih besar, yaitu dengan meningka' kan daya mesinnya, apa yang akan terjadi deng kecepatannya? Jelaskan!
4)      Buadah rangkaian suatu percobaan hukum Newto II dan amatilah bagaimana jalannya percobaan i Cobalah itu dengan teman-temanmu!
5)      Buadah suatu lagu yang menggambarkan berlakun" hukum Newton II dalam kehidupan sehari-hari!
6)      Carilah contoh kejadian sehari-hari yang mengguna kan prinsip hukum Newton II. Presentasikan conto' tersebut di depan kelas. (Suparno: 2004: 62)

Contoh-contoh Disain Mengajar Sederhana Berdasarkan Multiple Intelligences.
Matematika: Geometri, Keliling Lingkaran
Tujuan : menentukan besarnya keliling lingkaran
Alat     : tali panjang
Inteligensi yang ditekankan: kinestetik-badani, matematis-logis, linguistik, interpersonal, intrapersonal
Cara :

gambar A                 gambar B
1)     Siswa diminta membuat lingkaran dengan tali yang panjang (lihat gambar A).
2)     Siswa diminta untuk berdiri tepat mengelilingi lingkaran. Mereka diminta menghitung ada be-rapa orang yang tepat berdiri di sekeliling ling­karan itu (gambar A, kinestetik-badani).
3)     Siswa diminta untuk menarik garis tengah ling­karan, dan menghitung berapa orang tepat dapat berdiri untuk mengisi garis tengah tersebut (gambar B, kinestetik-badani).
4)     Siswa diminta mendiskusikan hubungan antara jumlah siswa yang berdiri di garis tengah dan yang berdiri sepanjang lingkaran, serta bagai-mana cara menghitungnya (matematis-logis dan interpersonal).
5)     Cari rumusan keliling lingkaran dengan garis tengah tadi dalam diskusi (interpersonal dan matematis-logis).
6)     Siswa diminta merefleksikan apa yang diper-olehnya dari diskusi tersebut (intrapersonal).
7)    Kemudian, diminta menuliskan dalam kertas apa yang mereka temukan dalam pelajaran itu (linguistik).
Bila dirangkumkan dalam tabel menjadi seperti berikut.

Topik
Inteligensi
Bentuk pembelajaran
Keliling lingkaran
Kinestetik-badani
Berdiri mengelilingi lingkaran/garis tengah

Interpersonal
Diskusi hubungan antara keliling dan garis tengah

Matematis-logis
Merumuskan rumus keliling lingkaran

Kinestetik-badani
Kerja tangan, menyusun kelompok benda

Intrapersonal
Refleksi kegunaan

Linguistik
Menuliskan hasil refleksi
Catatan:  Guru membantu dalam merangkum rumusan yang ditemukan siswa sehingga mendekati rumusan yang tepat secara matematis.

IPA, Biologi: Sifat-Sifat Kehidupan

Tujuan : mengerti dan memahami sifat-sifat benda hidup
Alat     : kertas, pensil, beberapa binatang hidup yang berbeda spesiesnya
Inteligensi yang ditekankan: lingkungan, matematis-logis, ruang-visual, interpersonal, intrapersonal, musikal, linguistik, eksistensial, kinestetik-badani
Cara    :
1.      Dalam kelompok siswa mengamati dan men-catat sifat-sifat binatang hidup yang diamatinya (lingkungan, ruang-visual).
2.      Setiap siswa menjelaskan sifat-sifat itu kepada teman lain (interpersonal dan linguistik).
3.      Dalam suatu matriks, sifat-sifat yang sama dan berbeda dikelompokkan (matematis-logis).
4.      Siswa diminta memperagakan sifat-sifat yang sama dalam bentuk gerak atau tari (kinestetik-badani).
5.      Siswa menciptakan suatu lagu yang menggam-barkan atau berisi sifat-sifat binatang atau benda hidup yang ditemukan (musikal).
6.        Siswa diminta berefleksi: apa artinya sifat itu bagiku, karena aku juga hidup. Bagaimana perasaanku bila sifat itu tidak ada padaku? (intra­personal).
7.        Mengapa benda-benda itu hidup, apa Tujuannya? (eksistensial)

Bila Dirangkum dalam table menjadi Seperti berikut;
Topik
Inteligensi
Bentuk pembelajaran
Sifat Benda Hidup
Lingkungan
Meneliti sifat-sifat benda hidup

Ruang-visual
Melihat benda-benda hidup

Linguistik
Menjelaskan sifat-sifat pada teman

Matematis-logis
Membuat tabel dan memasuk-kan sifat

Kinestetik-badani
Memperagakan gerak

Musikal
Membuat lagu sifat hidup

Intrapersonal
Refleksi gunanya bagi kita

Interpersonal
Kerja kelompok

Eksistensial
Apa gunanya hidup?


IPS: Demokrasi
Tujuan : menyadari arti pemerintahan yang demokratis sehingga dapat hidup lebih demokratis bersama orang lain
Alat     : tulisan tentang pimpinan yang autoriter (dapat dari koran, buku, buat kasus sendiri), kertas, alat tulis
Inteligensi yang ditekankan: linguistik, interpersonal, intra­personal, matematis-logis, ruang-visual, musikal, kinestetik-badani, eksistensial.
Cara    :
1.        Setiap siswa membaca kasus pimpinan yang autoriter, penindas rakyat, yang telah disiapkan. Menurut mereka siapakah yang benar dan tidak, dan menuliskan gagasannya pada selembar kertas (linguistik).
2.        Dalam kelompok saling mendiskusikan apa yang tidak benar dari pimpinan itu dan bagai­mana seharusnya sikap terhadap rakyat. Juga membahas bagaimana seharusnya sikap rakyat secara demokratis di zaman sekarang ini (inter­personal dan matematis-logis).
3.        Dalam kelompok memperagakan, dengan gerak dan lagu, situasi nondemokratis di masyarakat yang mereka alami (kinestetik-badani, musikal, linguistik).
4.        Merefleksikan sendiri, apa makna sikap demokra­si bagi mereka masing-masing (intrapersonal).
5.        Sebagai pekerjaan rumah, siswa diminta untuk mencari contoh pengalaman situasi yang tidak demokratis di lingkungannya; dan menuliskan-nya pada majalah dinding (ruang-visual dan linguistik).
6.        Bertanya: mengapa diktator itu ada? (eksistensial).

Topik
Inteligensi
Bentuk pembelajaran
Demokrasi
Linguistik
Membaca kisah, menulis

Interpersonal
Diskusi bersama

Matematis-logis
Berpikir rasional dalam diskusi

Kinestetik-badani
Memperagakan dalam gerak

Musikal
Memperagakan dalam lagu

Intrapersonal
Refleksi bagi diri sendiri

Ruang-visual
Melihat masyarakat

Eksistensial
Mengapa Ada?


Bahasa
Tujuan : belajar membuat kalimat yang lengkap, ada subjek-predikat-objek.
Alat     : alat tulis, papan kertas yang ditulisi
Inteligensi yang ditekankan: linguistik, ruang-visual, intraper­sonal, musikal, kinestetik-badani, matematis logis.


Cara :
1.      Siswa diberi bacaan, kalimatnya ada yang leng­kap dan ada yang tidak lengkap. Setiap siswa diminta mencari kalimat yang lengkap dan tidak lengkap, dengan menyebutkan alasannya (li­nguistik dan matematis-logis).
2.      Setiap siswa membuat papan dari karton dan menuliskan kata-kata yang dapat berkedudukan sebagai subjek, predikat, objek, keterangan, dan sebagainya (ruang-visual).
3.      Siswa dalam kelompok bermain kata dan kali­mat. Setiap kelompok misalnya 6 orang. Satu orang maju ke depan dan menunjukkan papan-nya, misalnya sebagai subjek. Lalu, teman lain berlomba unruk maju bila ia membawa kata pre­dikat, yang membawa objek bias maju bisa maju kemu­dian, dan seterusnya, sehingga terbentuk kali­mat yang lengkap. Selama maju mereka berderet menurut urutan kalimat (kinestetik-badani).
4.      Siswa berkelompok membuat lagu yang berisi aturan kalimat lengkap (musikal).
5.      Setiap siswa diminta membuat 10 kalimat lengkap yang lain sendirian (intrapersonal).
Bila dirangkumkan dalam suatu tabel menjadi sebagai berikut.

Topik
Inteligensi
Bentuk pembelajaran
Kalimat lengkap
Linguistik
Membaca

Matematis-logis
Mencari yang lengkap dan alasannya

Ruang-visual
Membuat papan kata

Kinestetik-badani
Main kata dan kalimat

Musikal
Membuat lagu

Intrapersonal
Membuat kalimat sendiri
Matematika: Probabilitas (SMU)
Tujuan : memahami prinsip probabilitas pada pelemparan mata uang
Alat     : Koin
Inteligensi yang ditekankan: matematis-logis, linguistik, inter­personal, ruang-visual, kinestetik-badani, intraper­sonal, lingkungan
Cara    :
1.      Siswa dalam kelompok berlima mengambil 10 koin. Mereka diminta melakukan percobaan dengan melempar koin itu serentak (kinestetik-badani), lalu menghitung berapa gambar yang keluar. Lalu mereka mencatatnya ke dalam tabel (matematis-logis, interpersonal, ruang visual)
2.      Siswa diminta melakukan pelemparan sebanyak 25 kali dan setiap kali memasukkan data ke dalam tabel (matematis-logis).
3.      Siswa diminta membuat grafik yang menggambarkan frekuensi gambar yang sering keluar dari tabel yang dipunyai (ruang-visual).
4.      Siswa diminta mendiskusikan hasilnya, berapa gambar yang sering keluar. Kemudian, diminta untuk merumuskan berapa probabilitas gambar keluar dari koin itu? Bandingkan dengan tabel, berapa gambar yang sering keluar? (matematis-logis dan interpersonal).
5.        Setelah selesai, siswa mereka diminta membuat laporan tertulis tentang percobaan dan hasilnya (linguistik).
6.        Di rumah setiap siswa diminta untuk mencari contoh dalam hidup sehari-hari, peristiwa apa saja yang mempunyai probabilitas ½ (Intrapersonal).
Bila dirangkumkan dalam suatu tabel menjadi sebagai berikut.
Topik
Inteligensi
Bentuk pembelajaran
Probabilitas
Matematis-logis
Menghitung lemparan, buat tabel, rumus

Interpersonal
Diskusi hash lemparan

Ruang-visual
Membuat grafik lemparan

Kinestetik-badani
Berdiri melempar dengan gerak

Intrapersonal
Mencari contoh sendiri di rumah

Linguistik
Menulis laporan

Lingkungan
Mencari contoh-contoh di alam


IPA (FISIKA): Fisika, Efek Doppler, dan Gaya Sentripetal
Efek Doppler untuk Suara (Haggerty, 1995)
Tujuan : siswa memahami efek Doppler untuk suara
Alat     : alat musik gitar, mikrofon, osiloskop
Inteligensi yang ditekankan: linguistik, musikal, matematis-logis, ruang-visual, kinestetik-badani, intrapersonal, interpersonal
Cara :
1.        Siswa diminta membuat penelitian tentang riwayat hidup dan karya Doppler di perpustaka-an. Mereka juga harus membuat laporan tertulis yang akan dipresentasikan di depan kelas (linguistik).
2.        Siswa diminta untuk memainkan musik dengan alat musik yang tersedia dan menunjukkan per-bedaan puncak suara dengan menggunakan alat tersebut. Mintalah untuk mendekatkan mikro­fon dan menghubungkannya dengan osiloskop, sehingga puncak suara itu dapat dilihat dan di-dengar. Siswa diminta untuk mencari hubungan antara puncak-puncak suara tersebut dan prin-sip efek Doppler. Misalnya, puncak suara men­jadi lebih tinggi, atau frekuensi suara menjadi lebih tinggi bila suara keluar dari sumber musik mendekati detektor suara (musikal).
3.        Mintalah siswa untuk menentukan besarnya frekuensi, panjang gelombang, dan kecepatan suara dengan rumus Doppler, n = f λ. Siswa diminta untuk mencari contoh prinsip efek Doppler dalam macam-macam gelombangyang berbeda seperti pada suara, air, cahaya, radio, radar (matematis-logis).
4.        Siswa diminta menyiapkan suatu ekspresi tentang efek Doppler dengan suatu gambar, diagram, dan sebagainya, dan menuliskannya sebagai laporan (ruang-visual).
5.        Siswa diminta untuk mengadakan praktek lapangan, misalnya di jalan raya, untuk mencari contoh-contoh dalam kehidupan yang menggu­nakan efek Doppler. Mereka diminta membawa audiotape untuk merekam. Mereka harus mem­buat laporan praktek lapangan tersebut dan mempresentasikannya di kelas (kinestetik-badani).
6.        Berilah kebebasan setiap siswa untuk mencari contoh sendiri yang cocok dengan mereka dan membuat laporan entah dalam bentuk tertulis maupun suatu ekspresi lain (intrapersonal).
7.        Dalam praktek lapangan mereka diminta be-kerja dalam kelompok, misalnya bertiga (inter­personal).
Bila dirangkumkan dalam suatu tabel menjadi sebagai berikut.
Topik
Inteligensi
Bentuk pembelajaran
Efek Doppler
Linguistik
Menulis riwayat hidup Doppler

Musikal
Main musik dihubungkan de­ngan osiloskop

Matematis-logis
Menentukan rumus

Ruang-visual
Membuat diagram

Kinestetik-badani
Mencari contoh di lapangan

Intrapersonal
Kerja sendiri

Interpersonal
Kerja kelompok


Gaya Sentripetal
Tujuan : mengerti gaya sentripetal dan dapat menggunakan konsep dasar gaya sentripetal dalam persoalan dan juga kehidupan sehari-hari.
Konsep: suatu benda yang bergerak melingkar beraturan akan mengalami suatu gaya mengarah ke pusat ling­karan, yang besarnya tergantung pada massa benda dan juga percepatan sentripetalnya. Sedangkan percepatan itu tergantung pada kuadrat kecepatan linearnya dan berbanding terbalik dengan jari-jari lintasannya.
Alat     : bola, tali, alat tulis
Inteligensi yang ditekankan: ruang-visual, kinestetik-badani, musikal, interpersonal, matematis-logis, linguistik, intrapersonal, lingkungan
Cara    :
1.      Siswa membuat percobaan sederhana seperti bagan berikut. Bola plastik diikat dengan tali. Dengan cara memegang talinya, bola itu diputar. Apa yang terjadi bila tali dilepaskan? Siswa akan mencobanya berkali-kali dan mengambil ke-simpulan. Siswa akan melihat bahwa bola itu terlepas keluar. Semakin kuat kecepatan putar-an, semakin jauh bola terlempar. Siswa diajak membuat percobaan berva-riasi agar bola sampai pada jarak tertentu (ruang-visual).
2.      Dapat dibuat suatu permain-an, di mana dua siswa me­megang ujung-ujung satu tali         secara tegang. Siswa pertama diam di tempat sambil meme­gang tali kuat-kuat, sedangkan siswa kedua berlari berputar mengelilingi siswa pertama dengan memegang ujung tali secara ketat. Sewaktu siswa kedua berlari kencang, pegangan tali siswa pertama dilepaskan. Apa yang terjadi? (kinestetik-badani).
3.      Dalam melemparkan bola, setiap kali ada bola yang mengenai sasaran, siswa diminta berteriak: Gol! Atau siswa diminta meneliti apakah ada pengaruh antara kecepatan berputar bola dan suara bola yang berputar (musikal).
4.      Dalam mengerjakan percobaan di atas, siswa harus bekerja sama. Mereka dapat saling men-diskusikan pertanyaan yang diutarakan guru, apa yang terjadi dengan bola bila tali dilepas? Biar-kan mereka bebas berdiskusi dengan guru sebagai moderator (interpersonal).
5.      Menurunkan rumusan Fs= mv²/R (lihat buku teks).

Menurut hukum Newton II, gaya yang terjadi dalam gerak lurus adalah F = ma. Dalam gerak melingkar seperti gambar di atas, gaya itu dapat ditulis sebagai Fs = mas. Percepatan sentripetal pada gerak melingkar adalah as = v²R. Maka, gaya sentripetal dapat dituliskan sebagai Fs= mv²/R. Setelah mengerti semuanya, siswa dapat juga diminta untuk mengerjakan persoalan ber­dasarkan ber­dasarkan rumus yang mereka temukan (mate­matis-logis).
6)     Siswa diminta merumuskan gaya sentripetal de­ngan kata-kata mereka sendiri, mengungkapkan rumusannya di depan kelas, atau diperdebatkan bersama teman-teman lain (linguistik).
7)     Setelah percobaan dan proses pembelajaran hampir usai, mintalah siswa untuk diam sejenak berefleksi, apa yang mereka peroleh dari pelajar-an itu. Mintalah mereka untuk mengungkapkan gagasan dan apa yang mereka peroleh dalam suatu rumusan kalimat, musik, ataupun ung-kapan lain (interpersonal).
8)     Mintalah siswa untuk mencari adakah gejala seperti itu di alam (lingkungan).
Bila dirangkumkan dalam suatu tabel menjadi seperti berikut.

Topik
Inteligensi
Bentuk pembelajaran
Gaya sentripetal
Ruang-visual
Percobaan memutar bola pada tali

Kinestetik-badani
Permainan siswa dengan tali

Musikal
Teriakan gol

Interpersonal
Kerja sama, diskusi

Matematis-logis
Menurunkan rumus

Linguistik
Menuliskan dengan kata sendiri

Intrapersonal
Merefleksikan apa yang diper-oleh

Lingkungan
Mencari gejala sejenis di alam


IPS: Keadilan dan Ketidakadilan

Tujuan : memahami dan mengerti apa itu keadilan, menjadi kritis terhadap soal ketidakadilan di masyarakat.
Alat     : kisah ketidakadilan dari koran
Inteligensi yang ditekankan: linguistik, interpersonal, intra­personal, lingkungan, matematis-logis, kinestetik-badani, musikal, eksistensial
Cara :
1.      Siswa diberi kasus dari koran tentang perlakuan tidak adil, penindasan pada masyarakat kecil (misalnya penggusuran becak, rumah, warung, dan sebagainya). Siswa harus membaca dan me-rangkum sendiri dengan mengkritisi pro-kontranya (linguistik).
2.      Siswa dikelompokkan menjadi dua, untak debat. Satu kelompok mengumpulkan alasan pro dan yang lain kontra (interpersonal dan matematis-logis).
3.      Satu orang menjadi moderator, lalu diadakan debat (linguistik).
4.      Dalam debat diperhatikan apakah alasan itu sungguh rasional atau tidak (matematis-logis).
5.      Pada akhirnya, disimpulkan unsur yang me-nonjol dari kelas. Lalu dirangkum dalam suatu lagu tentang ketidakadilan. Bisa juga kelompok mempresentasikannya dalam bentuk drama atau gerak (kinestetik-badani, musikal, dan li­nguistik).
6.      Pada akhirnya semua diajak merenung dan bertanya: apa guna keadilan dalam hidupku sen­diri, bagaimana aku merasakan suasana ketidak­adilan di masyarakat? (intrapersonal).
7.      Mengapa ada ketidakadilan; apakah ini cocok dengan tujuan hidup kita? (eksistensial).
Bila dirangkumkan dalam suatu tabel menjadi sebagai berikut.
Topik
inteligensi
Bentuk pembelajaran
Keadilan
Linguistik
Membaca koran dan merangkum

Interpersonal
Diskusi persiapan debat

Matematis-logis
Mencari alasan yang rasional dalam debat

Kinestetik-badani
Drama peragaan

Musikal
Membuat lagu tentang keadilan

Intrapersonal
Berefleksi

Lingkungan
Melihat ketidakberesan

Eksistensial
Melihat ketidakadilan

Bahasa:  Sifat Tokoh dalam Novel

Tujuan : memahami sifat tokoh-tokoh dalam suatu novel
Alat     : buku novel yang ingin dipelajari
Inteligensi yang digunakan: interpersonal, linguistik, ruang-visual, musikal, kinestetik-badani, intrapersonal, eksistensial.
Cara    :
1.      Siswa diminta membaca novel dan menuliskan sifat-sifat tokohnya (linguistik).
2.      Dalam kelompok kecil siswa mendiskusikan bersama sifat-sifat yang mereka temukan, apa arti dan maknanya (interpersonal).
3.      Setiap kelompok memperagakan sifat-sifat yang telah ditemukan dan  mendiskusikannya di depan kelas (kinestetik-badani).
4.      Mereka dapat juga menyajikan dalam lagu yang sesuai (musikal).
5.      Sifat-sifat itu disimbolkan dalam berbagai warna (ruang-visual).
6.      Mereka merefleksikan apa makna semua itu dan gunanya bagi hidupnya sendiri (intrapersonal).
7.      Bagaimana peran Tokoh-tokoh itu terhadap kelestarian lingkungan (Eksistensial)

Topik           
Intelegensi
Bentuk pembelajaran
Sifat tokoh novel
Linguistik
Membaca

Interpersonal
Diskusi tentang sifat-sifat tokoh

Kinestetik-badani
Peragaan

Musik
Membuat lagu

Intrapersonal
Refleksi tentang makna

Ruang-visual
Sifat disimbolkan dengan warna

Eksistensial
Mengamati peran tokoh terhadap lingkungan


Daftar Pustaka:
Armstrong, T. 1994. Multiple Intelligences in the Classroom. Alex­andria, VA: Association for Supervision and Cur­riculum Development.
______, 1999, “Sevent Kind of Smart, Identifiying and Developing Your Multiple Intelligences”, Pinguin Putnam Inc. (terj : Kind of Smart menemukan dan meningkatkan Kecerdasan Berdasarkan Teori Multiple Intelligences, 2002, Gramedia, Jakarta).
______, Setiap Anak cerdas, Panduan membantu anak belajar dengan memanfaatkan multiple intelegence-Nya, 2003, Gramedia, Jakarta.
______, 2004, Awakening Your Child’s Natural Genius, Interaksara, Jakarta.
Barbara K. Given, 2002, “ Teaching to the Natural Learning System”,  Alexandria, VA. (Terj: Braid-Based Teaching, 2007, Kaifa, Jakarta).
Campbell, B. 1999. Multiplying Intelligence in the Classroom,
http:// www.newhorizons.org/art_miclsrm.html
http:// www.newhori20ns.org/ trm_duriemi.html
Gardner, H. 1983. Frames of mind: The theory of multiple intelligences. NY: BasicBooks
_____  1991. Intelligence in Seven Steps. http://www.muki-intell.com/articles/gardner.htm
_____ 2000. Intelligence Reframed: Multiple Intelligences for the 21st
Century. New York: Basic
_____2003, “Multiple intelligences, Kecerdasan Majemuk, Teori dan Praktek (Berisi wawancara-wawancara dengan Howard Gardner)”, Interaksara, Jakarta.
Gardner, H. dan Hatch, T. 1989. "Multiple intelligences go to school-Educational implications of the theory of multiple intelligences". Educational Researcher, 18 (8), 4-10.
Gardner, H. 2007, Five Minds For The Future, Gramedia, Jakarta.
Goldfluss, M.S.Ed. Karen J,(editor), 2002, The Best of Multiple Intelligences Activities From Teacher Created Material, Compilation, Teacher Created material, Inc. USA.
Guignon, A. 1998. Multiple Intelligences: A Theory for Everyone. http://www.education-world.com
Haggerty, B. 1995. Nurturing intelligences. A Guide to multiple intelligences theory and teaching. New York: Addison-Wesley.
Jasmine, Julia,”Mengajar dengan Kecerdasan Majemuk; Implementasi Multiple intelligences”, 2007, Nuansa, Jakarta.
Suparno, Paul, 2004, “Teori Intelegensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah”, Kanisius, Yogyakarta.



[1] Alumni Pasca Sarjana Univ Brawijaya Malang (Human Resource Management), dan FIP Univ Negeri Malang, PLPG “Strategi Pengajaran”, Direktur Full Day and Boarding School SMP/SMA YAPI, serta Dosen STIE-YADIKA Bangil-Pasuruan.

No comments:

Post a Comment

Yang Penting Komentar!